Laporan Wartawan Bangka Pos Nurhayati
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Bupati Bangka Yusroni Yazid mengungkapkan, di awal masa jabatannya dirinya mengadakan gerakan bebas buta aksara Al Quran. Gerakan ini dilaksanakannya bersama Badan Koordinasi Perkumpulan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Bangka yang saat itu dipimpin Ustadz Fadillah Sobri.
"Saya kerjasama dengan beliau (Ustadz Fadillah Sobri-red) kita tangani bersama-sama. Kemudian kita biayai dari APBD. Alhamdulillah sekarang dimana-mana di pelosok-pelosok orang mendirikan TK/TPA," ungkap Yusroni saat membuka Seminar Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji, Sabtu (4/5/2013) di Kemenag Kabupaten Bangka.
Untuk itu, ia membuat keputusan persyaratan masuk SMP, jika anak-anak yang beragama Islam tidak bisa mengaji saat lulus SD, maka tidak bisa melanjut ke SMP. Diakuinya program ini mendorong orangtua agar anaknya bisa mengaji.
"Orangtua takut bukan anaknya tidak pandai mengajinya, tetapi takut tidak melanjutkan ke SMP," ungkap Yusroni.
Namun, Yusroni menilai tidak masalah karena itu punisment (hukuman) agar orangtua sadar untuk memotivasi anak bisa mengaji.
"Standarnya dibuat BKPRMI bahwa standar yang disebut bisa mengaji itu memang betul-betul sudah tartil. Nanti ada wisuda dan sebagainya," kata Yusroni.
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Bupati Bangka Yusroni Yazid mengungkapkan, di awal masa jabatannya dirinya mengadakan gerakan bebas buta aksara Al Quran. Gerakan ini dilaksanakannya bersama Badan Koordinasi Perkumpulan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Bangka yang saat itu dipimpin Ustadz Fadillah Sobri.
"Saya kerjasama dengan beliau (Ustadz Fadillah Sobri-red) kita tangani bersama-sama. Kemudian kita biayai dari APBD. Alhamdulillah sekarang dimana-mana di pelosok-pelosok orang mendirikan TK/TPA," ungkap Yusroni saat membuka Seminar Gerakan Masyarakat Magrib Mengaji, Sabtu (4/5/2013) di Kemenag Kabupaten Bangka.
Untuk itu, ia membuat keputusan persyaratan masuk SMP, jika anak-anak yang beragama Islam tidak bisa mengaji saat lulus SD, maka tidak bisa melanjut ke SMP. Diakuinya program ini mendorong orangtua agar anaknya bisa mengaji.
"Orangtua takut bukan anaknya tidak pandai mengajinya, tetapi takut tidak melanjutkan ke SMP," ungkap Yusroni.
Namun, Yusroni menilai tidak masalah karena itu punisment (hukuman) agar orangtua sadar untuk memotivasi anak bisa mengaji.
"Standarnya dibuat BKPRMI bahwa standar yang disebut bisa mengaji itu memang betul-betul sudah tartil. Nanti ada wisuda dan sebagainya," kata Yusroni.
Penulis : nurhayati
Editor : asmadi
Sumber : bangkapos.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar